Sloka terkait “Karmaphala”

Posted: January 22, 2013 in Uncategorized

  Karmaphala                        

Keimanan terhadap kebenaran hukum sebab akibat atau buah dari perbuatan disebut karmaphala  sradha, yang merupakan bagian ketiga dari panca sradha. Karma berarti berbuat, bekerja, dan berusaha.  Sebenarnya makna dari karma jauh lebih luas dari hanya sekedar kerja atau perbuata saja. Di dalamnya termasuk pula akibat dari semua tingkah laku yang dilakukan oleh manusia.  Kata  karma  berasal dari urat kata “kr”, artinya perbuatan, kerja; phala artinya buah.  Jadi secara singkat karmaphala artinya buah atau hasil pekerjaan.  Ajaran karmaphala sering digambarkan dengan kalimat – kalimat sebagai berikut :

  1. Menanam jagung, buah jagung yang akan dipetik
  2. Menanam mangga, buah mangga yang akan dipetik
  3. Menanam padi, buah padi yang akan di hasilkan dan sebagainya.

Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang es kimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manahcika ), karma dalam bentuk ucapan (wacika),dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kayika ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya). Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Proses berlakunya karma phala setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana),kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karma wasana seseorang.

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun keduanya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolak ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan?  Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu.

Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkanmenjadi tiga macam yaitu :

1.Sanchita Karma

2.Prarabdha Karma

3.Kryamana Karma

Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia.

Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini.

Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau.

Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri, bukan karena orang lain.Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya, selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sangHyang Widhi. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita.

 Sloka – sloka dikutip dari Bhagavad Gita

Pada kitab suci Bhagavad Gita, konsep karmaphala akan dijelaskan pada Bab III, yaitu mengenai

Karma – Yoga, dimana Krisna menjelaskan tentang kewajibannya sebagai seorang kesatria

Na karmanam anarambhan

Naiskarmyam purusa snute

Na ca samnyasanad eva

Siddhim samadhigacchati

( Bh.G. III. 4 )

Artinya :          Orang tidak akan mencapai kebebasan

Karena diam tiada bekerja

Juga ia tak akan mencapai kesempurnaan

Karena menghindari kegiataan kerja

Na hi kaschit kshanam api

Jatu tishthaty akarmakrit

Karyate hy avasah karma

Sarvah prakritijair gunaih

( Bh.G. III.5 )

Artinya :          Tidak seorang pun tidak bekerja

Walaupun untuk sesaat jua

Karena dengan tiada berdaya

Manusia dibuat bertindak oleh hokum alam

Penjelasan :

Dari 2 Sloka tersebut dapat dijelaskan  bahwa kerja digerakan oleh hukum – alam dan bukan oleh jiwa yang ada dalam badan jasmani ini. Sifat alam menimbulkan amarah dan nafsu yang dapat menyelubungi jiwa ini. Bagaikan api diselubungi asap, yang menyebabkan orang terikat oleh keinginan akan pahala kerja.

Ada sebuah anggapan  “ ada aksi pasti ada reaksi “, jadi ada kerja pasti ada hasilnya, baik atau buruk. Sri krisna bersabda kebebasan yang dimaksudkan adalah bukan bebas tanpa kerja, melainkan bebas dari ikatan belenggung kerja itu sendiri.

Dan kesempurnaan yang dimaksudkan adalah bukan menghindari kegiatan kerja, melainkan untuk menghindari nafsu keinginan untuk memperoleh pahala dari hasil kegiataan kerja itu sendiri. Selama manusia hidup di dunia ini, ia tidak bisa mengindarkan diri dari tindakan atau kerja. Berpikir adalah suatu tindakan atau kerja. Berjalan berbuat sesuatu dan sebagainya adalah suatu tindakan kerja. Pendek kata, hidup adalah tindakan dan kerja.

Annad  bhavanti bhutani

Parjanyad annasambhavah

Yajnad bhavati parjanyo

Yajnah karma samudhavah

( Bh.G. III.14 )

Artinya :          Dari makanan mahluk menjelma

Dari hujan lahirnya makanan

Dari yadnya muncullah hujan

Dan yadnya lahir dari pekerjaan

Penjelasan :

Karmaphala berarti buah perbuatan. Setiap perbuatan pasti akan mendatangkan hasil. Sebagaimana seorang petani yang menanam padi, maka padilah yang akan dipanen. Jika menanam jagung maka jagunglah yang akan dipetik. Demikian pula halnya setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik, atau sebaliknya hasil yang buruk adalah akibat dan perbuatan yang buruk. Tiada satu pun di alam semesta ini akan luput dari hukum karmapala, karena setiap kerja akan menampakkan hasilnya. Jika tidak ada sebab tak mungkin akan ada hasil. Inilah hukum sebab-akibat yang merupakan keyakinan yang sangat mendasar dalam ajaran agama Hindu. Hukum karmaphala tak akan pernah melenceng dari sasarannya. Artinya hasil akan selalu datang kepada penyebabnya, tanpa memandang dia orang kaya atau miskin, pejabat atau bawahan, guru atau murid, yang lemah atau yang kuat. Orang yang main air akan basah dan orang yang suka bermain api akan terbakar. Orang yang pernah berbohong dia pasti akan pernah dibohongi, Orang yang pernah berkhianat pasti akan pernah dikhianati, orang yang pernah memukul orang lain pasti akan pernah dipukul.

Tiada satu pun dari apa yang terjadi di alam semesta ini yang tidak berhubungan dengan karmaphala. Ia bagaikan nafas dari semua kejadian, jika pernah menarik nafas pasti akan keluar nafas itu. Semua kejadian merupakan suatu rangkaian yang saling terjalin, satu sebab akan menimbulkan sebab berikutnya demikian seterusnya bagaikan sebuah rantai yang tanpa akhir.

 Sloka – sloka dikutip dari Sarasamuccaya

Setiap gerak atau perbuatan (karma) selalu menimbulkan akibat, subha karma adalah perbuatan baik, asubha karma adalah perbuatan buruk. Klasifikasi baik dan buruk hanya diberikan oleh manusia, sebab hanya manusialah yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Tentang hal ini kitab suci mengungkapkan:

Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe

Asubhesu samavistam subhesvevavakarayet ( SS.2 )

Risakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang subhasubha karma, kuneng panentasakna ring subhakarma juga ikangasubhakarma, phalaning dadi wwang.

Terjemahan:
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Penjelasan :

Sebagaimana halnya manusia membedakan antara langit dan bumi, antara gelap dan terang, antara hitam dan putih, maka perbuatan dibedakan dalam baik dan buruk.  Dualitas karma inilah yang membentuk alam semesta ini menjadi seimbang. Listrik memiliki
muatan positip dan negatif, jika salah satunya diputus maka lampu tidak akan menyala. Bahkan alam semesta inipun tercipta sebagai akibat dari kerja antara Purusa dengan Prakerti atau Cetana (kesadaran) dan Acetana (ketidaksadaran). Perpaduan yang dua menjadi satu inilah menimbulkan alam semesta dengan segala isinya. Dengan demikian maka perbuatan baik tidak akan pernah ada jika tidak ada perbuatan buruk.

Namun demikian kitab suci mengajarkan agar kita berbuat baik. Sebabnya adalah demikian:

Iyam hi yonih prathama yonih prapya jagatipate

Atmanam sakyate trutum karmabhih subhalaksanaih ( SS.4 )
Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, maka sadhanang subha karma hinganing kottamaning dadi wwang ika

Terjemahannya:
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu :

1.       Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia.

2.     Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari  keadaan samsara ( punarbhawa ). Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiranberikutnya akan meningkat kualitasnya. Demikian juga bila semasa hidupnyabanyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya.Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan.Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai.

 

Karmaphala akan selalu melekat pada diri manusia, tak seorangpun dapat melepaskan diri dari kukum tersebut. Di dalam kitab sarasamuccaya disebutkan sebagai berikut

Yuvaiva dharmamasilah syadanityam khalu jivitam

Ko hi janati kadyadya mrtyusena patisyati ( SS.31 )

Matangnyan pengpongan wenangta, mangken rare ta pwa kitan lekasakena agawe dharmasadhana, apan anitya iking hurip, syapa kari wruha ri tekaning pati, syapa mangwruhan ri tekaning patinya wih

Terjemahan :

Karena itu, pergunakanlah sebaik – baiknya kemampuan yang ada sekarang selama anda masih muda, hendaklah anda lekas – lekas melakukan pekerjaan yang bersandarkan dharma, sebab hidup ini tidak tetap, siapa gerangan akan tahu tentang datangnya maut, siapa pula akan member- tahukan akan datangnya maut itu,

A dhumagrannivarttante jnatayah  saha bandhavih

Yena taih saha genvyam tat karma sukrtam kuru ( SS.32 )

Apanikang kadang warga rakwa, ring tunwan hingan ikan pangateraken, kunang ikang tumut, sehayanikang dadi hyang ring paran, gawenya subhasubha juga, matangnyan prihena tiking gawe hayu, sahayanta anuntunaken ri pona dlaha

 

Terjemahan :

Karena kagum kerabat itu, hanya sampai di tempat pembakaran ( kubur ), batasnya mereka itu mengantarkan, adapun yang ikut menemani roh di akherat adalah perbuatan yang baik, ataupun yang buruk saja, oleh karena itu hendaklah diusahakan berbuat baik, yaitu teman anda yang menjadi pengantar ke akhirat kelak.

Dengan sepenuhnya menyadari bahwa setiap perbuatan dapat menimbulkan efek positif dan efek negatif maka agama Hindu mengajarkan karma patha yaitu sepuluh pengendalian hawa nafsu yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan. Adapun karmaphata diuraikan dalam Sarasamuscaya sloka 74, 75, dan 76.

Anabhidyam parasvesu sarvasatvesu carusam

Karmanam phalamastiti trividham manasa caret ( SS.74 )

Prawrttyaning manah rumuhun ajarakena, telu kwehnya, pratyekanya, si tan engine adengkya ri drbyaning len, si tan krodha, ring sarwa sattwa, si mamituhwa ri hana ning karmaphala, nahan tang tiga ulahaning manah, kahrtaning indriya ika

Terjemahan :

Tindakan dari gerak pikiran terlebih dulu akan dibicarakan, tiga banyaknya, perinciannya : tidak ingin dan dengki pada kepunyaan orang lain, tidak berikap gemas kepada segala mahluk, percaya akan kebenaran ajaran karmaphala, itulah ketiganya perilaku pikiran yang merupakan pengendalian hawa nafsu.

Asatpralapam parusyam paicunyamanrtam tatha

Vatvari vaca rajendra na jalpennanucintayet ( SS.75 )

Nyang tanpa prawrttyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar picuna, ujar mithya, naha tang pat singgahananing wak, tan ujarakena, tan anggena – ngenan, kojaranya.

Terjemahan :

Inilah yang tidak patut timbul dari kata – kata, empat banyaknya, yaitu perkataan jahat, perkataan kasar menghardik, perkataan memfitnah, perkataan bohong ( tak dapat dipercaya ), itulah keempat harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir – pikir akan diucapkan.

Pranatipatam stainyam ca paradaranathapi va

Trini papani kayena sarvatah parivarjavet ( SS.76 )

Nihan yang tan ulahakena, syamatimati mangahalahal, si paradara, nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring parihasa, ring apatkala, ri pangipyan tuwi singgahana jugeka.

Terjemahan :

Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh,mencuri, berbuat zina,  ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok – olok, bersenda gurau, baik dalam keadaan dirundung malangm, keadaan darurat dalam khayalan sekalipu, hendaknya dihindari saja ketiganya itu.

Penjelasan :

Karmaphata diuraikan dalam Sarasamuscaya sloka 74, 75, dan 76, yang masing menjelaskan tentang konsep Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata dan berbuat.

Tindakan dari gerak pikiran terlebih dahulu akan dibicarakan, yaitu :

  1. Tidak ingin dan dengki pada kepunyaan orang lain;
  2. Tidak bersikap gemas kepada semua mahluk;
  3. Percaya pada kebenaran ajaran karmaphala.

Itu adalah ketiga perilaku pikiran yang merupakan pengedalian hawa nafsu ( SS.74 )

Inilah yang tidak patut timbul dari perkataan, yaitu :

  1. Berkata kasar;
  2. Berkata memfitnah;
  3. Perkataan bohong ( tidak dapat dipercaya );

4.   Berkata jahat.

Itu adalah keempat cara berkata yang harus disingkirkan, jangan diucapkan, jangan dipikirkan untuk diucapkan ( SS.75 )

Dalam tindakan berbuat, adapun hal yang tidak boleh dilakukan,  yaitu :

  1. Membunuh;
  2. Mencuri.
  3. Berbuat zina

Ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan kepada siapapun,baik secara berolok – olok,bersenda gurau, baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat dalam khayalan sekalipun, hendaknya hindari saja ketiganya itu  ( SS.76 )

Adapun pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan kunci keberhasilan dari umat Hindu menuju Jagadhita-moksa. Menuju kebahagiaan jasmani dan rohani. Menuju kedamaian yang selama ini kita tinggalkan. Kita merasa mengejar “si damai” itu namun kita tak pernah sampai, karena lebih banyak menggunakan lidah daripada tindakan. Jika menginginkan kedamaian bertapalah dalam segala pikiran, perkataan dan perbuatan, untuk meminimalkan segala kejahatan, segala keburukan  yang tidak mengenakkan. Jika hal ini tidak dilaksanakan sebagai karma yoga, maka bersiaplah menuju Jagadbhuta-moha, sudah pasti hanya kehancuran, penderitaan dan kesengsaraan yang tiada akhir yang akan dijumpai.

Asing sagawenya dadi manusa

Ya ta mingetaken de Bhatara Widhi

Apan sire pinaka paracaya Bhatara

Ring cubhacubha karmaning janma

( Wrhaspati Tattwa 22 )

 

Artinya :          Segala apa yang diperbuat di dalam menjelma menjadi manusia, itulah yang dicatat oleh Ida Sang Hyang Widhi, karena Dia sebagai saksi baik buruk perbuatan manusia.

Bhatara Dharma ngaran ira Bhatara Yama

Sang kumayatnaken cubhachuba prawrtti sekala janma

( Agastya Parwa 355.15 )

 

Artinya :          Bhatara Dharma bergelar Bhatara Yama adalah pelindung keadilan yang mengamati baik buruk perbuatan manusia. Baik buruk dari itu akan memberi akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.

Penjelasan

Jadi segala baik dan buruk suatu perbuatan akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini, tetapi juga setelah di akhirat kelak, yakni setelah atman dengan sukma sarira terpisah dari badan dan akan membawa akibat  pula dalam penjelmaan yang akan dating, yakni atman dengan suksma sarira memasuki badan dan wadah  yang baru. Hukuman dan rahmat yang dijatuhkan oleh Sang Hyang Widhi ini bersendikan pada keadilan. Pengaruh hukum karma ini lah yang akan mempengaruhi watak manusia. Terlebih hukum kepada roh yang selalu melakukan dosa semasa penjelmaannya, maka derajatnya akan semakin bertambh merosot. Hal ini dijelaskan dalam weda sebagai berikut :

Dewanan narakan janturjantunam narakan pacuh

Pucunam narakam nrgo mrganam narakam khagah

Paksinam narakam  vyalo vynam narakam damstri

Damstrinam narakam visi visinam naramarane

( Clokantara 40. 13 – 14 )

 

Artinya :          Dewa neraka menjelma menjadi manusia. Manusia menjadi ternak. Ternak menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung menjadi ular dan ular neraka menjadi taring dan yang jahat menajadi bisa karena bisa dapat membahayakan manusia.

Demikian kenerakaan yang dialami oleh atman, yang selalu berbuat jahat semasa penjelmaannya di dunia. Jika penjelmaan itu telah sampai pada limit yang terhina, akibat dosa, maka ia tetap akan menjadi dasar terbawah dari kawah neraka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s