Tat twam asi

Posted: February 27, 2013 in Uncategorized

Pemikiran yang sederhana tentang ajaran Tat twam asi

 Renungkanlah setiap ucapan, tindakan dan pikiran.        

Tat twam asi adalah sebuah kata yang berarti kau adalah aku….!!
jika anda menyakiti orang lain bayangkanlah bagaimana jika orang itu menyakiti anda…???
jika anda membenci orang lain bayangkanlah bagaimana jika orang itu membenci anda….???
tidak enak bukan….??
apapun yang anda lakukan pada orang lain bayangkanlah jika apa yang terjadi jika posisinya terbalik…??
jika anda bisa menerapkan dalam kehidupan sehari hari maka anda akan menjadi orang yang selalu sadar dan menghargai orang lain….!!
dan anda akan selalu dihormati dan disayang oleh orang orang disekeliling anda….!!
dengan memberikan senyum maka anda akan mendapati muka muka yang tersenyum dengan anda sepanjang hari….!!!

tat twam asi….!!
aku adalah kau…..!!
sakitmu adalah sakitku…!!
bahagiamu adalah bahagiaku juga…!
damai dihati, damai didunia, damai diakhirat,….!!

semoga bermakna dan menyadarkan kita semua dalam kasih dan cahaya Ida sang Hyang Widhi Wasa menuntun kejalan Dharma.

 

Sloka terkait “Karmaphala”

Posted: January 22, 2013 in Uncategorized

  Karmaphala                        

Keimanan terhadap kebenaran hukum sebab akibat atau buah dari perbuatan disebut karmaphala  sradha, yang merupakan bagian ketiga dari panca sradha. Karma berarti berbuat, bekerja, dan berusaha.  Sebenarnya makna dari karma jauh lebih luas dari hanya sekedar kerja atau perbuata saja. Di dalamnya termasuk pula akibat dari semua tingkah laku yang dilakukan oleh manusia.  Kata  karma  berasal dari urat kata “kr”, artinya perbuatan, kerja; phala artinya buah.  Jadi secara singkat karmaphala artinya buah atau hasil pekerjaan.  Ajaran karmaphala sering digambarkan dengan kalimat – kalimat sebagai berikut :

  1. Menanam jagung, buah jagung yang akan dipetik
  2. Menanam mangga, buah mangga yang akan dipetik
  3. Menanam padi, buah padi yang akan di hasilkan dan sebagainya.

Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang es kimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manahcika ), karma dalam bentuk ucapan (wacika),dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kayika ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya). Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Proses berlakunya karma phala setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana),kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karma wasana seseorang.

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun keduanya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolak ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan?  Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu.

Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkanmenjadi tiga macam yaitu :

1.Sanchita Karma

2.Prarabdha Karma

3.Kryamana Karma

Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia.

Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini.

Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau.

Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri, bukan karena orang lain.Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya, selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sangHyang Widhi. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita.

 Sloka – sloka dikutip dari Bhagavad Gita

Pada kitab suci Bhagavad Gita, konsep karmaphala akan dijelaskan pada Bab III, yaitu mengenai

Karma – Yoga, dimana Krisna menjelaskan tentang kewajibannya sebagai seorang kesatria

Na karmanam anarambhan

Naiskarmyam purusa snute

Na ca samnyasanad eva

Siddhim samadhigacchati

( Bh.G. III. 4 )

Artinya :          Orang tidak akan mencapai kebebasan

Karena diam tiada bekerja

Juga ia tak akan mencapai kesempurnaan

Karena menghindari kegiataan kerja

Na hi kaschit kshanam api

Jatu tishthaty akarmakrit

Karyate hy avasah karma

Sarvah prakritijair gunaih

( Bh.G. III.5 )

Artinya :          Tidak seorang pun tidak bekerja

Walaupun untuk sesaat jua

Karena dengan tiada berdaya

Manusia dibuat bertindak oleh hokum alam

Penjelasan :

Dari 2 Sloka tersebut dapat dijelaskan  bahwa kerja digerakan oleh hukum – alam dan bukan oleh jiwa yang ada dalam badan jasmani ini. Sifat alam menimbulkan amarah dan nafsu yang dapat menyelubungi jiwa ini. Bagaikan api diselubungi asap, yang menyebabkan orang terikat oleh keinginan akan pahala kerja.

Ada sebuah anggapan  “ ada aksi pasti ada reaksi “, jadi ada kerja pasti ada hasilnya, baik atau buruk. Sri krisna bersabda kebebasan yang dimaksudkan adalah bukan bebas tanpa kerja, melainkan bebas dari ikatan belenggung kerja itu sendiri.

Dan kesempurnaan yang dimaksudkan adalah bukan menghindari kegiatan kerja, melainkan untuk menghindari nafsu keinginan untuk memperoleh pahala dari hasil kegiataan kerja itu sendiri. Selama manusia hidup di dunia ini, ia tidak bisa mengindarkan diri dari tindakan atau kerja. Berpikir adalah suatu tindakan atau kerja. Berjalan berbuat sesuatu dan sebagainya adalah suatu tindakan kerja. Pendek kata, hidup adalah tindakan dan kerja.

Annad  bhavanti bhutani

Parjanyad annasambhavah

Yajnad bhavati parjanyo

Yajnah karma samudhavah

( Bh.G. III.14 )

Artinya :          Dari makanan mahluk menjelma

Dari hujan lahirnya makanan

Dari yadnya muncullah hujan

Dan yadnya lahir dari pekerjaan

Penjelasan :

Karmaphala berarti buah perbuatan. Setiap perbuatan pasti akan mendatangkan hasil. Sebagaimana seorang petani yang menanam padi, maka padilah yang akan dipanen. Jika menanam jagung maka jagunglah yang akan dipetik. Demikian pula halnya setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik, atau sebaliknya hasil yang buruk adalah akibat dan perbuatan yang buruk. Tiada satu pun di alam semesta ini akan luput dari hukum karmapala, karena setiap kerja akan menampakkan hasilnya. Jika tidak ada sebab tak mungkin akan ada hasil. Inilah hukum sebab-akibat yang merupakan keyakinan yang sangat mendasar dalam ajaran agama Hindu. Hukum karmaphala tak akan pernah melenceng dari sasarannya. Artinya hasil akan selalu datang kepada penyebabnya, tanpa memandang dia orang kaya atau miskin, pejabat atau bawahan, guru atau murid, yang lemah atau yang kuat. Orang yang main air akan basah dan orang yang suka bermain api akan terbakar. Orang yang pernah berbohong dia pasti akan pernah dibohongi, Orang yang pernah berkhianat pasti akan pernah dikhianati, orang yang pernah memukul orang lain pasti akan pernah dipukul.

Tiada satu pun dari apa yang terjadi di alam semesta ini yang tidak berhubungan dengan karmaphala. Ia bagaikan nafas dari semua kejadian, jika pernah menarik nafas pasti akan keluar nafas itu. Semua kejadian merupakan suatu rangkaian yang saling terjalin, satu sebab akan menimbulkan sebab berikutnya demikian seterusnya bagaikan sebuah rantai yang tanpa akhir.

 Sloka – sloka dikutip dari Sarasamuccaya

Setiap gerak atau perbuatan (karma) selalu menimbulkan akibat, subha karma adalah perbuatan baik, asubha karma adalah perbuatan buruk. Klasifikasi baik dan buruk hanya diberikan oleh manusia, sebab hanya manusialah yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Tentang hal ini kitab suci mengungkapkan:

Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe

Asubhesu samavistam subhesvevavakarayet ( SS.2 )

Risakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang subhasubha karma, kuneng panentasakna ring subhakarma juga ikangasubhakarma, phalaning dadi wwang.

Terjemahan:
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Penjelasan :

Sebagaimana halnya manusia membedakan antara langit dan bumi, antara gelap dan terang, antara hitam dan putih, maka perbuatan dibedakan dalam baik dan buruk.  Dualitas karma inilah yang membentuk alam semesta ini menjadi seimbang. Listrik memiliki
muatan positip dan negatif, jika salah satunya diputus maka lampu tidak akan menyala. Bahkan alam semesta inipun tercipta sebagai akibat dari kerja antara Purusa dengan Prakerti atau Cetana (kesadaran) dan Acetana (ketidaksadaran). Perpaduan yang dua menjadi satu inilah menimbulkan alam semesta dengan segala isinya. Dengan demikian maka perbuatan baik tidak akan pernah ada jika tidak ada perbuatan buruk.

Namun demikian kitab suci mengajarkan agar kita berbuat baik. Sebabnya adalah demikian:

Iyam hi yonih prathama yonih prapya jagatipate

Atmanam sakyate trutum karmabhih subhalaksanaih ( SS.4 )
Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, maka sadhanang subha karma hinganing kottamaning dadi wwang ika

Terjemahannya:
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu :

1.       Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia.

2.     Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari  keadaan samsara ( punarbhawa ). Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiranberikutnya akan meningkat kualitasnya. Demikian juga bila semasa hidupnyabanyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya.Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan.Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai.

 

Karmaphala akan selalu melekat pada diri manusia, tak seorangpun dapat melepaskan diri dari kukum tersebut. Di dalam kitab sarasamuccaya disebutkan sebagai berikut

Yuvaiva dharmamasilah syadanityam khalu jivitam

Ko hi janati kadyadya mrtyusena patisyati ( SS.31 )

Matangnyan pengpongan wenangta, mangken rare ta pwa kitan lekasakena agawe dharmasadhana, apan anitya iking hurip, syapa kari wruha ri tekaning pati, syapa mangwruhan ri tekaning patinya wih

Terjemahan :

Karena itu, pergunakanlah sebaik – baiknya kemampuan yang ada sekarang selama anda masih muda, hendaklah anda lekas – lekas melakukan pekerjaan yang bersandarkan dharma, sebab hidup ini tidak tetap, siapa gerangan akan tahu tentang datangnya maut, siapa pula akan member- tahukan akan datangnya maut itu,

A dhumagrannivarttante jnatayah  saha bandhavih

Yena taih saha genvyam tat karma sukrtam kuru ( SS.32 )

Apanikang kadang warga rakwa, ring tunwan hingan ikan pangateraken, kunang ikang tumut, sehayanikang dadi hyang ring paran, gawenya subhasubha juga, matangnyan prihena tiking gawe hayu, sahayanta anuntunaken ri pona dlaha

 

Terjemahan :

Karena kagum kerabat itu, hanya sampai di tempat pembakaran ( kubur ), batasnya mereka itu mengantarkan, adapun yang ikut menemani roh di akherat adalah perbuatan yang baik, ataupun yang buruk saja, oleh karena itu hendaklah diusahakan berbuat baik, yaitu teman anda yang menjadi pengantar ke akhirat kelak.

Dengan sepenuhnya menyadari bahwa setiap perbuatan dapat menimbulkan efek positif dan efek negatif maka agama Hindu mengajarkan karma patha yaitu sepuluh pengendalian hawa nafsu yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan. Adapun karmaphata diuraikan dalam Sarasamuscaya sloka 74, 75, dan 76.

Anabhidyam parasvesu sarvasatvesu carusam

Karmanam phalamastiti trividham manasa caret ( SS.74 )

Prawrttyaning manah rumuhun ajarakena, telu kwehnya, pratyekanya, si tan engine adengkya ri drbyaning len, si tan krodha, ring sarwa sattwa, si mamituhwa ri hana ning karmaphala, nahan tang tiga ulahaning manah, kahrtaning indriya ika

Terjemahan :

Tindakan dari gerak pikiran terlebih dulu akan dibicarakan, tiga banyaknya, perinciannya : tidak ingin dan dengki pada kepunyaan orang lain, tidak berikap gemas kepada segala mahluk, percaya akan kebenaran ajaran karmaphala, itulah ketiganya perilaku pikiran yang merupakan pengendalian hawa nafsu.

Asatpralapam parusyam paicunyamanrtam tatha

Vatvari vaca rajendra na jalpennanucintayet ( SS.75 )

Nyang tanpa prawrttyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar picuna, ujar mithya, naha tang pat singgahananing wak, tan ujarakena, tan anggena – ngenan, kojaranya.

Terjemahan :

Inilah yang tidak patut timbul dari kata – kata, empat banyaknya, yaitu perkataan jahat, perkataan kasar menghardik, perkataan memfitnah, perkataan bohong ( tak dapat dipercaya ), itulah keempat harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir – pikir akan diucapkan.

Pranatipatam stainyam ca paradaranathapi va

Trini papani kayena sarvatah parivarjavet ( SS.76 )

Nihan yang tan ulahakena, syamatimati mangahalahal, si paradara, nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring parihasa, ring apatkala, ri pangipyan tuwi singgahana jugeka.

Terjemahan :

Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh,mencuri, berbuat zina,  ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok – olok, bersenda gurau, baik dalam keadaan dirundung malangm, keadaan darurat dalam khayalan sekalipu, hendaknya dihindari saja ketiganya itu.

Penjelasan :

Karmaphata diuraikan dalam Sarasamuscaya sloka 74, 75, dan 76, yang masing menjelaskan tentang konsep Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata dan berbuat.

Tindakan dari gerak pikiran terlebih dahulu akan dibicarakan, yaitu :

  1. Tidak ingin dan dengki pada kepunyaan orang lain;
  2. Tidak bersikap gemas kepada semua mahluk;
  3. Percaya pada kebenaran ajaran karmaphala.

Itu adalah ketiga perilaku pikiran yang merupakan pengedalian hawa nafsu ( SS.74 )

Inilah yang tidak patut timbul dari perkataan, yaitu :

  1. Berkata kasar;
  2. Berkata memfitnah;
  3. Perkataan bohong ( tidak dapat dipercaya );

4.   Berkata jahat.

Itu adalah keempat cara berkata yang harus disingkirkan, jangan diucapkan, jangan dipikirkan untuk diucapkan ( SS.75 )

Dalam tindakan berbuat, adapun hal yang tidak boleh dilakukan,  yaitu :

  1. Membunuh;
  2. Mencuri.
  3. Berbuat zina

Ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan kepada siapapun,baik secara berolok – olok,bersenda gurau, baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat dalam khayalan sekalipun, hendaknya hindari saja ketiganya itu  ( SS.76 )

Adapun pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan kunci keberhasilan dari umat Hindu menuju Jagadhita-moksa. Menuju kebahagiaan jasmani dan rohani. Menuju kedamaian yang selama ini kita tinggalkan. Kita merasa mengejar “si damai” itu namun kita tak pernah sampai, karena lebih banyak menggunakan lidah daripada tindakan. Jika menginginkan kedamaian bertapalah dalam segala pikiran, perkataan dan perbuatan, untuk meminimalkan segala kejahatan, segala keburukan  yang tidak mengenakkan. Jika hal ini tidak dilaksanakan sebagai karma yoga, maka bersiaplah menuju Jagadbhuta-moha, sudah pasti hanya kehancuran, penderitaan dan kesengsaraan yang tiada akhir yang akan dijumpai.

Asing sagawenya dadi manusa

Ya ta mingetaken de Bhatara Widhi

Apan sire pinaka paracaya Bhatara

Ring cubhacubha karmaning janma

( Wrhaspati Tattwa 22 )

 

Artinya :          Segala apa yang diperbuat di dalam menjelma menjadi manusia, itulah yang dicatat oleh Ida Sang Hyang Widhi, karena Dia sebagai saksi baik buruk perbuatan manusia.

Bhatara Dharma ngaran ira Bhatara Yama

Sang kumayatnaken cubhachuba prawrtti sekala janma

( Agastya Parwa 355.15 )

 

Artinya :          Bhatara Dharma bergelar Bhatara Yama adalah pelindung keadilan yang mengamati baik buruk perbuatan manusia. Baik buruk dari itu akan memberi akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.

Penjelasan

Jadi segala baik dan buruk suatu perbuatan akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini, tetapi juga setelah di akhirat kelak, yakni setelah atman dengan sukma sarira terpisah dari badan dan akan membawa akibat  pula dalam penjelmaan yang akan dating, yakni atman dengan suksma sarira memasuki badan dan wadah  yang baru. Hukuman dan rahmat yang dijatuhkan oleh Sang Hyang Widhi ini bersendikan pada keadilan. Pengaruh hukum karma ini lah yang akan mempengaruhi watak manusia. Terlebih hukum kepada roh yang selalu melakukan dosa semasa penjelmaannya, maka derajatnya akan semakin bertambh merosot. Hal ini dijelaskan dalam weda sebagai berikut :

Dewanan narakan janturjantunam narakan pacuh

Pucunam narakam nrgo mrganam narakam khagah

Paksinam narakam  vyalo vynam narakam damstri

Damstrinam narakam visi visinam naramarane

( Clokantara 40. 13 – 14 )

 

Artinya :          Dewa neraka menjelma menjadi manusia. Manusia menjadi ternak. Ternak menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung menjadi ular dan ular neraka menjadi taring dan yang jahat menajadi bisa karena bisa dapat membahayakan manusia.

Demikian kenerakaan yang dialami oleh atman, yang selalu berbuat jahat semasa penjelmaannya di dunia. Jika penjelmaan itu telah sampai pada limit yang terhina, akibat dosa, maka ia tetap akan menjadi dasar terbawah dari kawah neraka.

♠♥♠

Om Namah Shivaya, Om Namah Shivaya
Om Namah Shivaya, Om Namah Shivaya

Om Namah Shivaya, Shivaya Namah Om
Shivaya Namah Om, Shivaya Namah Om
Shivaya Namah Om Namah Shivaya

Shiva Shiva Shiva Shiva Shivaya Namah Om
Hara Hara Hara Hara Namah Shivaya
Shiva Shambho Hara Hara Shambho

Hari om Hari om Hari om Namah Shivaya
Shiva Shambho Shambho Shiva Shambo Mahadeva
Hara Hara Hara Hara Mahadeva Shiva Shambo Mahadeva
Hala Hala Dhara Shambo Anatha Natha Shambho
Hari om Hari om Hari om Namah Shivaya
* * *

Om Mahadevaiah Nama
Sarva Mangala Mangalye Shive Sarvartha Saadike
Sharanye Trayamba`ke Gowri ,Mahadevi Namosthuthe.

Om Namah Shivay.
Om Trayambakam Yaja Mahe Sugandhim Pushtivardhanam
Oourva Rukhamiva Bhandhanat  Mruthiyor Mrukshiya Mam Amrutat.

Video  —  Posted: January 5, 2013 in Uncategorized

Jaman Turunnya Awatara

Posted: January 5, 2013 in Uncategorized

Om Svastyastu Image

Awatara dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha turun ke dunia, mengambil suatu bentuk atau wujud tertentu guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran.

•Masa Satyayuga, kesadaran umat manusia akan Dharma (kebenaran, kebajikan, kejujuran) sangat tinggi.
•Masa Tretayuga merupakan zaman kerohanian. Sifat-sifat kerohanian sangat jelas tampak. Agama menjadi dasar hidup.
•Masa Dwaparayuga, manusia mulai bertindak rasional. Penjahat-penjahat dan orang-orang berdosa bertambah. Kelicikan dan kebohongan mulai tampak.
•Zaman terakhir, Kaliyuga, merupakan zaman kehancuran. Banyak manusia mulai melupakan Tuhan. Banyak moral manusia yang rusak parah. Kaum pria banyak berkuasa dan wanita dianggap sebagai objek pemikat nafsu mereka. Banyak siswa berani melawan gurunya.
Satyayuga (1.728.000 tahun)
Tretayuga (1.296.000 tahun)
• Dwaparayuga (864.000 tahun)
• Kaliyuga (432.000 tahun)
   Mahayuga (4.320.000 tahun)

Image

Makna Penjor Galungan

Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.

Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.

Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di purapura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.

Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.

Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.

Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.

Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya.

Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang.

Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
– Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
– Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
– Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
– Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
– Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
– Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
– Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
– Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
– Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.

Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut :
“Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting (IB. PT. Sudarsana, 61; 03)
WHD No. 478 Nopember 2006.

Dikutip dari http://www.parisada.org

Aside  —  Posted: November 19, 2012 in Uncategorized

SUBHA & ASUBHA KARMA

Posted: June 18, 2012 in Uncategorized

Om Swasty Astu

                                                                                                                       

Om Avighnam Astu Namo Sidham

Om Sidhirastu Tad Astu Astu Svaha

SUBHA & ASUBHA KARMA

 

Kata subha karma terdiri dari dua kata yaitu subha dan karma. Subha yang berarti baik sedangkan karma yang berarti perbuatan.

Jadi subha karma berarti sebuah tingkah laku yang terpuji dan baik. Perilaku manusia salama hidupnya berada pada jalur yang berbeda , sehingga dengan kesadaran dia harus dapat menggunakan kemampuan yang ada pada dirinya yaitu kemampuan berpikir, berkata dan berbuat. Namun kemampuan itu sendiri hendaknya diarahkan pada subha karma. Karena bila subha karma yang menjadi gerak pikiran, perkataan, perbuatan., maka  kemampuan yang ada pada diri manusia akan menjelma menjadi perilaku yang baik dan benar. Sebaliknya asubha karma yang menjadi sasaran gerak pikir, perkataan, dan perbuatan, maka kemampuan itu akan menjadi perilaku yang salah.

Berdasarkan hal itu, maka salah satu aspek kehidupan manusia sebagai pancaran dari kemampuan atau daya pikir  adalah membeda-bedakan dan memilih yang baik bukan yang buruk.

Masusa sarvabhutesu vartate vai subhasubhe, asubhe samavistam subhaesveva vakaravet

(sarasamusccaya 2)

dari demikian banyaknya mahluk yang hidup, yang di lahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat melakukan perbuatan baik buruk itu; adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik juga manfaat menjadi manusia.”

Untuk memberikan batasan tentang manakah yang di sebut tingkah laku baik atau buruk, benar atau salah,tidaklah mudah untuk menentukan secara tegas mengenai klasifikasi dari pada baik dan buruk itu adalah sulit.

Adapun menurut ajaran agama hindu yang menurut perbuatan baik yaitu:

1.  Trikaya parisudha adalah tiga gerak perilaku manusia yang di sucikan yaitu berfikir, berkata, dan berbuat. Jadi berikir bersi akan menimbulkan perkataan yang jujur dan berbuata yang benar.

2. Catur paramita adalah empat bentuk budi luhur, yang terdiri dari:

1.   Maitri artinya lemah lembut, yang merupakan baguan dari budi luhur yang berusaha  untuk kebahagian mahpenderituntuk kebahagiaan mahluknya.

2.   Karuna adalah belas kasihan  artinya bagian dari budi luhur yang menghendaki  terhapusnya penderitaan dari segala mahluk.

3.   Mudita artinya sifat atau sikap yang menyenangkan orang lain.

4.   Upeksa artinya sifat atu sikap suka menghargai orang lain.

Jadi catur paramita adalah tuntutan susila yang membawa manusia ke arah   kemuliaan.

3.   Sad Paramita adalah enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran.

Adapun bagian dari sad paramita yang terdiri dari:

1. Dana paramita artinya memberi dana atau sedekah berupa materi

atau    pun  spiritual.

2. Sila paramita artinya berpikir, berkata , berbuat yang suci.

3. Ksanti paramita artinya pikiran tenang , tahan terhadap penghinaan

4. Wirya paramita artinya memiliki sikap trikaya parisudha yang tegu.

5. Dyana paramita artinya niat mempersatukan piikiran untuk mencari jawaban atas kebenaran.

6.  Pradnya paramita artinya kebijksanaan dalam  menimbang –  nimbang suatu permasalahan.

4.   Dasa yama brata adalah sepuluh macam pengendalan diri , yang terdiri dari Arimbawa artinya tidak mementingkan  diri sendiri, Ksama artinya suka mengampuni dan tahan uji dalam kehidupan, Satya artinya setiap kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang, Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti orang lain, Dama artinya menasehati diri sendiri, Arjawa artinya jujur dan mempertahanan kebenaran, Prati artinya cinta kasih terhadap semua mahluk, Prasada artinya berfikir dan suci tampa pamrih, Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut, dan sopan santun, dan Mardhawa artinya rendah hati, Tidak sombong dan berpikir tulus.

Subha karma adalah perbuatan yang baik menyebabkan manusia itu selalu ada di jalan dharma.

Jika pada saat kehidupan sekarang ini kita selalu berbuat  baik, namun perjalanan hidup kita selalu dalam keadaan yang susah, mungkin kita sebagai  umat manusia selalu berfikir dan bertanya, TUHAN apakah salah ku? Padahal aku hidup di dunia  ini selalu berusaha untuk berbuat baik dan berada di jalan darma Namun mengapa hiduku ini selalu sial???

Jawabannya hanya ada pada karma  kita yang terdahulu, mungkin saja pada kehidupan kita yang terdahulu kita mempunyai sifat Asuba karma  yang mencerminkan sifat kejahatan.

Hal-hal seperti itu akan berimbas pada kehidupan kita di jaman sekarang atau  akan datang yang menyebabkan kita menjadi menderita akibat dari karma kita terdahulu.

Janganlah berpikir bahwa kesialan yang kita alami pada kehidupan sekarang ini

adalah sebuah takdir ,,, Itu adalah sebuah pemikiran yang agak menyimpang karna kita sebagai umat  HINDU yang mengenal dan mengerti  dengan konsep karmapala.

Nasib seseorang  di tentukan oleh perbuatannya sendiri, jika perbuatan kita baik maka maka hasil kebaikan yang akan kita peroleh, begitu juga sebaiknya jika kita berbuat jahat, maka saat menjelma akan mendapatkan hasil yang buruk sesuai dangan karma yang di perbuat.

TUHAN tidak pernah ikut campur dalam menentukan jalan hidup  manusia , karena TUHAN itu maha adil.

Jika TUHAN ikut campur dalam menentukan nasib umatnya ,,, TUHAN bisa di katakan tidak adil karena pada kenyataanya kehidupan manusia di dunia ini baik secara materi maupun nonmateri sangat berbeda-beda. Jika TUHAN itu adil, kenapa tidak di sama ratakan jalan hidup umat nya agar tidak ada sikap dengki dan iri hati  di antara mereka?

TUHAN hanya memberikan kita penilaian terhadap mahluk ciptaanNYA, jika manusia berbuat baik maka karma baik yang akan di catat oleh TUHAN.

Sebagai contoh:

Pada saat manusia haus akan kekuasaan, mereka menebangi pohon yang ada di hutan, menjual kayunya dan menggunakan lahannya itu sebagai  tempat bercocok tanam, hal itu dilakukan manusia secara terus menerus yang menyebabkan hutan-hutan yang ada di pegunungan menjadi gundul, akibatnya terjadi anjir bandang yang menyebabkan korban jiwa.

Jika hal itu terjadi apakah kita akan menyalahkan TUHAN?

Tidak mungkin akan terjadi longsor dan banjir jika manusia tidak menebangi pohon yang ada di pegunungan.

Itu adalah hukum sebab akibat yang biasa di sebut denga hukum alam(  hukum Rta)

Umat sedarma yang sama berbahagia,

Dalam kitab Brhad-aranyaka Upanisad IV.4.5 dijelaskan bahwa:

Sesuai dengan perbuatan demikian lah seorang jadinya

Dia yang berbuat baik akan menjadi baik,di yang berbuat jahat akan menjadi jahat

Dengan perbuatan suci dia akan menjadi suci,dengan perbuatan buruk dia akan menjadi buruk, yang lain menyatakan bahwa manusia terdiri dari keinginan2, sebagaimana keinginannya, demikianlah kehendaknya, sebagaimana ia bertindak, tindakan apapun yang akan ia lakuakan  itulah hasil yang ia peroleh.

Dalam bhagavad gita III.16.di jelaskan :

Demikianlah sebab terjadinya perputaran roda,ia yang tidak ikut dalam perputaran roda itu berbuat jahat, selalu berusaha memenuhi nafsu indranya, sesungguhnya ia hidup dalam sia-sia.

Takdir dan karma sungguh lah berbeda. Takdir adalah sesuatu yang terjadi akibat   kehendak TUHAN. Takdir biasanya juga di sebut dengan nasib. Namun karma membuat seseorang  harus mengambil tanggung jawab atas nasibnya sendiri.

Takdir mungkin membuat  orang dalam keadaan pasif, namun karma membuat kita mengambil tanggung jawab yang aktip untuk merubah dan memperbaiki hidup kita sekalipun untuk itu kita harus menghadapi kesulitan.

Tanpa hukum karma TUHAN adalah diktator yang kejam dan sewenang-wenang. Tanpa hukum karma agama hanya lah sekedar sebagai alat penghibur.

Seperti halnya obat penenang yang menghilangkan rasa sakit namun tidak menyembuhkan  penyakinya.

Hukum karma menjamin berlakunya keadilan dalam kehidupan manusia. Tanpa keadialan semacam itu hidup di dunia ini tidak ada gunanya.

Jadi hukum  karma bukanlah hukum balas dendam, hukum karma hanyalah menetapkan hubungan sebab akibat, perbuatana dan hasil.

Ibarat kita menanam sebuah pohon,pahit atau  manis buah yang kita petik tergantung dari pohon yang kita  tanam.

Penulis : Mahasiswa STAH DNJ

 

BAB I

PENDAHULUAN

Berbicara mengenai kepemimpinan (leadership) kita tidak lepas dari dua kata kapabilitas (kemampuan) dan akseptabilitas (diterima). Pada dasarnya hanya ada dua pilihan bila kita hidup dalam suatu perkumpulan, yakni sebagai Pemimpin atau sebagai yang dipimpin yang lazim disebut anggota. Kemampuan dalam arti mampu memimpin, mampu mengorbankan diri demi tujuan yang ingin dicapai, baik korban waktu, tenaga, materi dll serta dapat diterima, dalam arti dapat dipercaya oleh anggota masyarakatnya dan pejabat yang di atasnya. Untuk suksesnya pencapaian tujuan suatu perkumpulan, sangat tergantung dari proses kerjasama dan rasa saling membutuhkan antara anggota dengan pemimpinnya. Hubungan erat antara pemimpin dan anggota diibaratkan seperti hubungan Singa dengan hutan, sebagai berikut :

“Singa adalah penjaga hutan. Hutan pun selalu melindungi Singa, Singa dan hutan harus selalu saling melindungi dan bekerjasama. Bila tidak atau berselisih, maka hutan akan hancur dirusak manusia, pohon-pohonnya akan habis dan gundul ditebang, hal ini membuat singa kehilangan tempat bersembunyi, sehingga ia bermukim dijurang atau dilapangan yang akhirnya musnah diburu dan diserang manusia.” Hubungan kerja sama yang saling membutuhkan ibaratnya “Singa dengan Hutan” perlu diterapkan oleh pemimpin dan masyarakatnya, sehingga dapat sukses dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Tidak ada pemimpin yang sukses tanpa didukung masyarakatnya, demikian sebaliknya.

Kepemimpinan memliki berbagai macam istilah,antara lain Leadership ”leader” dari kata asing,management dari kata ilmu administrasi dan Nitisastra dari kata Hindu dan Lain-lainya.

Kata Nitisastra berasal dari bahasa sansekerta,dari kata Niti dan Sastra. Niti berarti pemimpin,sosial etik dan kebijakan,sedangkan Sastra berarti ajaran,aturan dan teori. Jadi Nitisastra berarti ajaran pemimpin,yang juga diartikan ilmu yang bertujuan untuk membangun suatu negara baik dari segi tata negara,tata pemerintahan maupun tata masyarakatnya. Sehubungan dengan pembangunan negara,pemerintahan dan masyarakat berdasarkan Nitisastra,ajaran agama Hindu dapat memberikan nilai-nilai moril dari wujud pembangunan tersebut. Dalam hal ini Nitisastra dapat berarti suatu konsepsi penataan pemerintahan dan pembangunan negara secara umum yang bersifat universal dan teoritis,namun memiliki nilai-nilai praktis.

 

KASUS PEMICU II

Dalam kekawin Ramayana ( 1.3 ) tertulis dalam aksara bali, denga wirama sronca yang telah ditulis kembali dalam huruf latin :

 

Guna manta Sang Dasaratha

 wruh sira ring weda bhaktiring dewa

tar malupeng pitra puja,

masih ta sireng swagotra kabeh

 

Apa  makna dari sloka tersebut bagi seorang pemimpin bangsa dalam melaksanakan Dharma Negara dan Dharma Agama, khusus menurut ajaran Agama Hindu ?

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Ramayana adalah sebuah epos yang menceritakan tentang riwayat perjalanan Rama. Rama adalah tokoh utama dalam epos ini, karena Beliau adalah penjelmaan Dewa Wisnu yang dalam kitab Purana disebut sebagai salah satu Awatara dari sepuluh Awatara Visnu. Karena  cerita yang ada dalam kitab Ramayana ini sangat menarik,penuh idealisme, pendidikan moral dan kepemimpinan menyebabkan Ramayana  menjadi sebuah epos yang dipelajari diseluruh dunia. Kitab Ramayana merupakan  hasil karya besar dari Maharesi Walmiki. Pengaruh Kitab Ramayana tersebar hampir di seluruh Asia dan dipahat sebagai hiasan candi. Di indonesia, gubahan yang kita jumpai adalah kekawin Ramayana ada dalam bahasa Jawa kuna dan di tertulis dalam aksara bali. Salah satu kekawin Ramayana yang sangat terkait dengar ajaran Nitisatra adalaha kekawin Ramayana ( 1.3 ) tertulis dalam aksara bali, denga wirama sronca yang telah ditulis kembali dalam huruf latin. Dalam kekawin itu dijelaskan, bahwa sang Dasaratha, menjadi ayah dewa Wisnu menjelma. Mengapa Wisnu memilih sang Dasaratha sebagai ayahnya, tentu karena memilih tempat kelahiran-Nya yang terbaik. Apakah sang Dasaratha merupakan raja yang terbaik pada jamannya ?

Guna manta Sang Dasaratha

 wruh sira ring weda bhaktiring dewa

tar malupeng pitra puja,

masih ta sireng swagotra kabeh

Artinya : Sangat utama beliau Sang Dasaratha,Sri Baginda ahli weda (ilmu pengetahuan)

Dan sujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, tidaklah lupa beliau melaksanakan pemujaan terhadap leluhurnya, Sri Baginda sangat mencintai keluarganya dan masyarakatnya.

Raja Dasaratha dinyatakan mampu menguasai musuh-musuhnya yang terdapat dalam dirinya, musuh yang paling dekat yaitu hawa nafsu buruk seperti : krodha, lobha, moha, mada, matsarya dllnya yang sejenis. Disebutkan pula beliau pandai dalam politik. Di kala memberikan dana punya kepada rakyatnya, bagaikan awan yang mencurahkan hujan dan sama sekali tidak pilih kasih. Semua orang dikasihinya. Lebih-lebih terhadap pendeta dan guru, Dasaratha tidak pernah ingkar janji dan jujur. Terhadap istri saja beliau tak pernah berdusta, apalagi kepada orang lain. Segala kata-kata yang terucap selalu mengandung kebajikan, maka banyak yang menilai tidak sia-sia ia memimpin negara. Sang Raja Dasaratha  adalah sangat bakti kepada Dewa Indra, ia adalah penganut Siwa, adalah salah satu manifestasi Tuhan. Disamping itu Dasaratha adalah bagaikan bulan, adalah bersih, suci dan bening. Banyak orang yang budiman tinggal di Ayodhya, selalu senang sepanjang masa, baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Membuat senang orang lain, sehingga seluruh warga negara menjadi bahagia, sungguh beliau bagaikan Dewa Indra. Hanya bedanya Sang Dasaratha adanya di dunia, sedangkan Indra ada di sorga. Rama adalah putra sulung sang Dasaratha, yang sepatutnya menggantikan ayahnya menjadi raja. Namun lantaran ayahnya pernah berjanji dengan Dewi Kaikayi, putranyalah yang menjadi raja. Rama tiada bersedia, namun ia memilih tinggal dalam hutan. Ia adalah sosok putra yang suputra, menegakkan janji ayahnya. Di sini jelaslah Sang Dasaratha sebagai pemimpin, tidak boleh ingkar janji. Dengan tindakannya itu Rama memberi tempat terhormat buat ayahnya dan sekaligus berbakti kepada ibunya Dewi Kaikayi, walaupun sebagai ibu tiri. Yang menjadi raja adalah Bharata putra Dewi Kaikayi, namun sebenarnya Bharata mengecam ibu kandungnya, karena ia sama sekali tidak berkeinginan merebut kekuasaan kakaknya. Itulah sebabnya Bharata mencari kakaknya Rama ke dalam hutan, namun Rama menyerahkan terompah  kepada Bharata, seakan-akan ialah yang memerintah. Bharata sendiri yang memerintah atas nama Sang Rama.

Dharma Negara dan Dharma Agama seorang pemimpin

Dharma artinya agama, kebajikan, keadilan, kebenaran, bhudipekerti, moral, sradha/keyakinan, hukum, tugas/kewajiban, bakti dan kerja baik. Lawan dari dharma adalah adharma, peminpin wajib melawan adharma jika ingin rakyatnya memenangkan dharma. Dharma juga artinya sama dengan satya, hukum, kebenaran dan kewajiban yang harus dipegang teguh oleh seorang peminpin di dalam menjalankan swadharmanya. Dimana seorang peminpin berpikir kebenaran, berkata tentang kebenaran dan berprilaku berdasarkan kebenaran maka disana masyarakat akan mendapatkan pengayoman,kesejahtraan dan kedamaian.
Sesuai maknanya Dharma artinya melindungi, menyangga, menjinjing dan memangku. Dimana peminpin menjalankan dharma maka rakyat akan dilindungi dari rasa takut, rakyat akan disangga kehidupannya, dibangun kesejahtraannya, rakyat akan diantarkan/dijinjing keluar dari kemiskinan dan kesamsaraan, rakyat akan dipangku menuju kedamaian. Karena dharma yang dijalankan oleh peminpin rakyatnya akan dlindungi oleh dharma, sebaliknya dimana peminpin melanggar dharma disana peminpin dan rakyat akan samsara. Dharmanegara adalah pengabdian kepada negara, ibu pertiwi dan bangsa. Dharmaraja tugas kewajiban sebagai seorang kepala negara (peminpin pemerintahan) menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa, menjaga hak-hak warga negaranya. Mensejahtrakan rakyat dibawah naungannya. Dalam melaksanakan dharmanegara seorang peminpin ibarat matahari yang menyinari bumi, menghilangkan semua gelapnya dunia, demikianlah orang yang melakukan dharma memusnahkan segala macam dosa dan sesamsaraan raknyatnya

Ajaran Agama Hindu yang berorientasi pada kehidupan bhuana agung dan bhuana alit memberikan pandangan bahwa kehidupan bernegara merupakan suatu masalah yang sangat penting dan mendasar. Sebagai cabang ilmu pengetahuan berdasarkan ajaran Agama Hindu, yang secara khusus membicarakan  tentang berbagai macam masalah kehidupan bernegara disebut Nitisastra. Dalam ilmu inilah kita dapat mempelajari berbagai macam konsep tentang kehidupan bernegara,seperti bentuk negara, tujuan negara, kedaulatan negara, kepemimpinan. Agama Hindu bersumberkan pada ajaran dharma memberikan tuntunan kesempurnaan pada umatnya untuk dapat mewujudkan cita-cita membangun dan menata kehidupan bernegara. Tuntunan hidup untuk menjadi warga negara yang baik termuat dalam berbagai sastra Hindu. Demikian juga tentang tuntunan bagi setiap umatnya yang mendapat kesempatan memimpin negara, baik sebagai pemimpin pada tingkat tinggi, tingkat menengah, tingkat bawah, dan juga untuk memimpin diri sendiri sesungguhkan telah di gariskan dalam sastra-satra suci Hindu.

Tuntunan agama Hindu berguna untuk umatnya agar menjadi warga negara yang baik dengan tujuan untuk membentuk kepengikutan atau sebagai warga negara yang taat. Sedangkan, bagi umat yang mendapat kesempatan sebagai pemimpin negara, tuntunan ajaran agama Hindu bertujuan untuk membentuk kepemimpinan negara yang baik, kuat bersih dan berwibawa. Dengan demikian, dapat diambil suatu asumsi bahwa ajaran agama Hindu dapat menuntun umatnya menjadikan dirinya sebagai sumber inspirasi dalam membentuk dan memantapkan suatu pandangan hidup berbangsa dan bernegara.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Nitisastra adalah  ajaran pemimpin,yang juga diartikan ilmu yang bertujuan untuk membangun suatu negara baik dari segi tata negara,tata pemerintahan maupun tata masyarakatnya. Sehubungan dengan pembangunan negara,pemerintahan dan masyarakat berdasarkan Nitisastra,ajaran agama Hindu dapat memberikan nilai-nilai moril dari wujud pembangunan tersebut. Dharma artinya agama, kebajikan, keadilan, kebenaran, bhudipekerti, moral, sradha/keyakinan, hukum, tugas/kewajiban, bakti dan kerja baik. JADI
KEWAJIBAN SEORANG PEMIMPIN MENJALANKAN SWADHARMANYA DALAM MEMENANGKAN KEADILAN DAN KEBAIKAN MENUJU KESEJAHTERAAN BERSAMA ADALAH DHARMA NEGARA SEORANG PEMIMPIN.  DHARMA AGAMA ADALAH  KEWAJIBAN SEMUA UMAT UNTUK MELAKSANAKAN AJARAN AGAMANYA MELALUI CATUR MARGA; BHAKTI, KARMA, YOGA DAN JNANA. MENGENDALIKAN TRI KAYA PARISUDHA DALAM DIRINYA, WAJIB MENJALANKAN CATUR PURUSA ARTHA MENUJU JAGADHITA DAN MOKSA.

Seperti apa yang telah dilakoni oleh Raja Dasaratha sebagai seorang pemimpin yang tepat pada janji, adil, dan bijaksana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aside  —  Posted: June 18, 2012 in Uncategorized