kepemimpinan Hindu

Posted: June 18, 2012 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

Berbicara mengenai kepemimpinan (leadership) kita tidak lepas dari dua kata kapabilitas (kemampuan) dan akseptabilitas (diterima). Pada dasarnya hanya ada dua pilihan bila kita hidup dalam suatu perkumpulan, yakni sebagai Pemimpin atau sebagai yang dipimpin yang lazim disebut anggota. Kemampuan dalam arti mampu memimpin, mampu mengorbankan diri demi tujuan yang ingin dicapai, baik korban waktu, tenaga, materi dll serta dapat diterima, dalam arti dapat dipercaya oleh anggota masyarakatnya dan pejabat yang di atasnya. Untuk suksesnya pencapaian tujuan suatu perkumpulan, sangat tergantung dari proses kerjasama dan rasa saling membutuhkan antara anggota dengan pemimpinnya. Hubungan erat antara pemimpin dan anggota diibaratkan seperti hubungan Singa dengan hutan, sebagai berikut :

“Singa adalah penjaga hutan. Hutan pun selalu melindungi Singa, Singa dan hutan harus selalu saling melindungi dan bekerjasama. Bila tidak atau berselisih, maka hutan akan hancur dirusak manusia, pohon-pohonnya akan habis dan gundul ditebang, hal ini membuat singa kehilangan tempat bersembunyi, sehingga ia bermukim dijurang atau dilapangan yang akhirnya musnah diburu dan diserang manusia.” Hubungan kerja sama yang saling membutuhkan ibaratnya “Singa dengan Hutan” perlu diterapkan oleh pemimpin dan masyarakatnya, sehingga dapat sukses dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Tidak ada pemimpin yang sukses tanpa didukung masyarakatnya, demikian sebaliknya.

Kepemimpinan memliki berbagai macam istilah,antara lain Leadership ”leader” dari kata asing,management dari kata ilmu administrasi dan Nitisastra dari kata Hindu dan Lain-lainya.

Kata Nitisastra berasal dari bahasa sansekerta,dari kata Niti dan Sastra. Niti berarti pemimpin,sosial etik dan kebijakan,sedangkan Sastra berarti ajaran,aturan dan teori. Jadi Nitisastra berarti ajaran pemimpin,yang juga diartikan ilmu yang bertujuan untuk membangun suatu negara baik dari segi tata negara,tata pemerintahan maupun tata masyarakatnya. Sehubungan dengan pembangunan negara,pemerintahan dan masyarakat berdasarkan Nitisastra,ajaran agama Hindu dapat memberikan nilai-nilai moril dari wujud pembangunan tersebut. Dalam hal ini Nitisastra dapat berarti suatu konsepsi penataan pemerintahan dan pembangunan negara secara umum yang bersifat universal dan teoritis,namun memiliki nilai-nilai praktis.

 

KASUS PEMICU II

Dalam kekawin Ramayana ( 1.3 ) tertulis dalam aksara bali, denga wirama sronca yang telah ditulis kembali dalam huruf latin :

 

Guna manta Sang Dasaratha

 wruh sira ring weda bhaktiring dewa

tar malupeng pitra puja,

masih ta sireng swagotra kabeh

 

Apa  makna dari sloka tersebut bagi seorang pemimpin bangsa dalam melaksanakan Dharma Negara dan Dharma Agama, khusus menurut ajaran Agama Hindu ?

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Ramayana adalah sebuah epos yang menceritakan tentang riwayat perjalanan Rama. Rama adalah tokoh utama dalam epos ini, karena Beliau adalah penjelmaan Dewa Wisnu yang dalam kitab Purana disebut sebagai salah satu Awatara dari sepuluh Awatara Visnu. Karena  cerita yang ada dalam kitab Ramayana ini sangat menarik,penuh idealisme, pendidikan moral dan kepemimpinan menyebabkan Ramayana  menjadi sebuah epos yang dipelajari diseluruh dunia. Kitab Ramayana merupakan  hasil karya besar dari Maharesi Walmiki. Pengaruh Kitab Ramayana tersebar hampir di seluruh Asia dan dipahat sebagai hiasan candi. Di indonesia, gubahan yang kita jumpai adalah kekawin Ramayana ada dalam bahasa Jawa kuna dan di tertulis dalam aksara bali. Salah satu kekawin Ramayana yang sangat terkait dengar ajaran Nitisatra adalaha kekawin Ramayana ( 1.3 ) tertulis dalam aksara bali, denga wirama sronca yang telah ditulis kembali dalam huruf latin. Dalam kekawin itu dijelaskan, bahwa sang Dasaratha, menjadi ayah dewa Wisnu menjelma. Mengapa Wisnu memilih sang Dasaratha sebagai ayahnya, tentu karena memilih tempat kelahiran-Nya yang terbaik. Apakah sang Dasaratha merupakan raja yang terbaik pada jamannya ?

Guna manta Sang Dasaratha

 wruh sira ring weda bhaktiring dewa

tar malupeng pitra puja,

masih ta sireng swagotra kabeh

Artinya : Sangat utama beliau Sang Dasaratha,Sri Baginda ahli weda (ilmu pengetahuan)

Dan sujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, tidaklah lupa beliau melaksanakan pemujaan terhadap leluhurnya, Sri Baginda sangat mencintai keluarganya dan masyarakatnya.

Raja Dasaratha dinyatakan mampu menguasai musuh-musuhnya yang terdapat dalam dirinya, musuh yang paling dekat yaitu hawa nafsu buruk seperti : krodha, lobha, moha, mada, matsarya dllnya yang sejenis. Disebutkan pula beliau pandai dalam politik. Di kala memberikan dana punya kepada rakyatnya, bagaikan awan yang mencurahkan hujan dan sama sekali tidak pilih kasih. Semua orang dikasihinya. Lebih-lebih terhadap pendeta dan guru, Dasaratha tidak pernah ingkar janji dan jujur. Terhadap istri saja beliau tak pernah berdusta, apalagi kepada orang lain. Segala kata-kata yang terucap selalu mengandung kebajikan, maka banyak yang menilai tidak sia-sia ia memimpin negara. Sang Raja Dasaratha  adalah sangat bakti kepada Dewa Indra, ia adalah penganut Siwa, adalah salah satu manifestasi Tuhan. Disamping itu Dasaratha adalah bagaikan bulan, adalah bersih, suci dan bening. Banyak orang yang budiman tinggal di Ayodhya, selalu senang sepanjang masa, baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Membuat senang orang lain, sehingga seluruh warga negara menjadi bahagia, sungguh beliau bagaikan Dewa Indra. Hanya bedanya Sang Dasaratha adanya di dunia, sedangkan Indra ada di sorga. Rama adalah putra sulung sang Dasaratha, yang sepatutnya menggantikan ayahnya menjadi raja. Namun lantaran ayahnya pernah berjanji dengan Dewi Kaikayi, putranyalah yang menjadi raja. Rama tiada bersedia, namun ia memilih tinggal dalam hutan. Ia adalah sosok putra yang suputra, menegakkan janji ayahnya. Di sini jelaslah Sang Dasaratha sebagai pemimpin, tidak boleh ingkar janji. Dengan tindakannya itu Rama memberi tempat terhormat buat ayahnya dan sekaligus berbakti kepada ibunya Dewi Kaikayi, walaupun sebagai ibu tiri. Yang menjadi raja adalah Bharata putra Dewi Kaikayi, namun sebenarnya Bharata mengecam ibu kandungnya, karena ia sama sekali tidak berkeinginan merebut kekuasaan kakaknya. Itulah sebabnya Bharata mencari kakaknya Rama ke dalam hutan, namun Rama menyerahkan terompah  kepada Bharata, seakan-akan ialah yang memerintah. Bharata sendiri yang memerintah atas nama Sang Rama.

Dharma Negara dan Dharma Agama seorang pemimpin

Dharma artinya agama, kebajikan, keadilan, kebenaran, bhudipekerti, moral, sradha/keyakinan, hukum, tugas/kewajiban, bakti dan kerja baik. Lawan dari dharma adalah adharma, peminpin wajib melawan adharma jika ingin rakyatnya memenangkan dharma. Dharma juga artinya sama dengan satya, hukum, kebenaran dan kewajiban yang harus dipegang teguh oleh seorang peminpin di dalam menjalankan swadharmanya. Dimana seorang peminpin berpikir kebenaran, berkata tentang kebenaran dan berprilaku berdasarkan kebenaran maka disana masyarakat akan mendapatkan pengayoman,kesejahtraan dan kedamaian.
Sesuai maknanya Dharma artinya melindungi, menyangga, menjinjing dan memangku. Dimana peminpin menjalankan dharma maka rakyat akan dilindungi dari rasa takut, rakyat akan disangga kehidupannya, dibangun kesejahtraannya, rakyat akan diantarkan/dijinjing keluar dari kemiskinan dan kesamsaraan, rakyat akan dipangku menuju kedamaian. Karena dharma yang dijalankan oleh peminpin rakyatnya akan dlindungi oleh dharma, sebaliknya dimana peminpin melanggar dharma disana peminpin dan rakyat akan samsara. Dharmanegara adalah pengabdian kepada negara, ibu pertiwi dan bangsa. Dharmaraja tugas kewajiban sebagai seorang kepala negara (peminpin pemerintahan) menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa, menjaga hak-hak warga negaranya. Mensejahtrakan rakyat dibawah naungannya. Dalam melaksanakan dharmanegara seorang peminpin ibarat matahari yang menyinari bumi, menghilangkan semua gelapnya dunia, demikianlah orang yang melakukan dharma memusnahkan segala macam dosa dan sesamsaraan raknyatnya

Ajaran Agama Hindu yang berorientasi pada kehidupan bhuana agung dan bhuana alit memberikan pandangan bahwa kehidupan bernegara merupakan suatu masalah yang sangat penting dan mendasar. Sebagai cabang ilmu pengetahuan berdasarkan ajaran Agama Hindu, yang secara khusus membicarakan  tentang berbagai macam masalah kehidupan bernegara disebut Nitisastra. Dalam ilmu inilah kita dapat mempelajari berbagai macam konsep tentang kehidupan bernegara,seperti bentuk negara, tujuan negara, kedaulatan negara, kepemimpinan. Agama Hindu bersumberkan pada ajaran dharma memberikan tuntunan kesempurnaan pada umatnya untuk dapat mewujudkan cita-cita membangun dan menata kehidupan bernegara. Tuntunan hidup untuk menjadi warga negara yang baik termuat dalam berbagai sastra Hindu. Demikian juga tentang tuntunan bagi setiap umatnya yang mendapat kesempatan memimpin negara, baik sebagai pemimpin pada tingkat tinggi, tingkat menengah, tingkat bawah, dan juga untuk memimpin diri sendiri sesungguhkan telah di gariskan dalam sastra-satra suci Hindu.

Tuntunan agama Hindu berguna untuk umatnya agar menjadi warga negara yang baik dengan tujuan untuk membentuk kepengikutan atau sebagai warga negara yang taat. Sedangkan, bagi umat yang mendapat kesempatan sebagai pemimpin negara, tuntunan ajaran agama Hindu bertujuan untuk membentuk kepemimpinan negara yang baik, kuat bersih dan berwibawa. Dengan demikian, dapat diambil suatu asumsi bahwa ajaran agama Hindu dapat menuntun umatnya menjadikan dirinya sebagai sumber inspirasi dalam membentuk dan memantapkan suatu pandangan hidup berbangsa dan bernegara.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Nitisastra adalah  ajaran pemimpin,yang juga diartikan ilmu yang bertujuan untuk membangun suatu negara baik dari segi tata negara,tata pemerintahan maupun tata masyarakatnya. Sehubungan dengan pembangunan negara,pemerintahan dan masyarakat berdasarkan Nitisastra,ajaran agama Hindu dapat memberikan nilai-nilai moril dari wujud pembangunan tersebut. Dharma artinya agama, kebajikan, keadilan, kebenaran, bhudipekerti, moral, sradha/keyakinan, hukum, tugas/kewajiban, bakti dan kerja baik. JADI
KEWAJIBAN SEORANG PEMIMPIN MENJALANKAN SWADHARMANYA DALAM MEMENANGKAN KEADILAN DAN KEBAIKAN MENUJU KESEJAHTERAAN BERSAMA ADALAH DHARMA NEGARA SEORANG PEMIMPIN.  DHARMA AGAMA ADALAH  KEWAJIBAN SEMUA UMAT UNTUK MELAKSANAKAN AJARAN AGAMANYA MELALUI CATUR MARGA; BHAKTI, KARMA, YOGA DAN JNANA. MENGENDALIKAN TRI KAYA PARISUDHA DALAM DIRINYA, WAJIB MENJALANKAN CATUR PURUSA ARTHA MENUJU JAGADHITA DAN MOKSA.

Seperti apa yang telah dilakoni oleh Raja Dasaratha sebagai seorang pemimpin yang tepat pada janji, adil, dan bijaksana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s